Teroris dalam Tahanan Belum Bisa Ditangani Psikolog

SOLO (Suara Karya) Diperlukan ilmu psikologi khusus untuk menangani kasus terorisme di lndonesia. Tetapi, sampai saat ini belum ditemukan ilmu yang tepat untuk diterapkan, termasuk untuk menangani pelaku teror yang saat ini berada di penjara.

Tidak ada yang menangani psikologi narapidana terorisme di penjara. Kami belum menemukan ilmu yang tepat. Sebab, untuk menemukan cara yang tepat, kami membutuhkan penelitian yang sangat panjang,” kata Prof Sarlito Wirawan Sarwono, psikolog dari Universitas Indonesia (UI), kepada wartawan di sela-sela Temu Ilmiah Nasional dan Kongres Xl Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi)” di Solo, beberapa hari lalu.

Selain lamanya waktu yang dibutuhkan untuk penelitian, kendala lain yang dihadapi adalah masalah keuangan. Sebab, menurut Sarlito, untuk melakukan penelitian membutuhkan dana yang tidak sedikit. “Untuk penerapan hasil penelitian itu, nantinya juga pasti sulit sebab harus melalui tahapan dan proses yang panjang, seperti harus adanya surat keterangan (SK) dari menteri atau peraturan pemerintah (permen) dan sebagainya. Tetapi, penelitian saat ini berjalan terus meski banyak kendala yang dihadapi,” ujamya.

Padahal, pengembangan ilmu penanganan kasus terorisme harus dilakukan cepat. Sebab, harus berkejaran dengan aksi-aksi terorisme di Indonesia yang terus terjadi. Untuk mengubah ideologi pelaku teror yang sangat militan tersebut sangat sulit, apalagi militansi tidak bisa dihindari.

Sementara itu, terkait dengan penanganan para teroris yang tertangkap di Indonesia, Sarlito mengatakan bahwa apa yang dilakukan aparat kepolisian sudah tepat. Sebab, menurutnya, tidak semua teroris bisa ditangkap hidup-hidup dan menembak mati teroris merupakan solusi yang tepat.

Tapi, solusi tepat pada saat itu dan bukan merupakan satusatunya solusi. Sebab, mereka kan juga harus bertindak cepat karena berhadapan dengan teroris yang bersenjata,” katanya. Pada kesempatan yang sama Ketua Umum HIMPSI, Retno Suhapti, mengatakan, untuk penanganan kasus terorisme, tidak bisa dilihat dari satu aspek saja, tetapi dari beberapa aspek seperti ekonomi, budaya, dan sosial. Pendekatan yang dilakukan harus melihat latar belakang yang ada.

“Sebab, kondisinya sangat beragam dan penyebabnya juga bermacam-macam. Karena itu, pendekatannya juga disesuaikan dengan latar belakangnya,” ujamya. Sementara itu, Wakil Gubemur Jawa Tengah Rustriningsih pada kongres tersebut mengatakan, diperlukan peranan dari psikolog untuk menangani kasus terorisme yang terjadi di lndonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: